Resensi:

adi prasetijo

Barth menekankan bahwa identitas etnik adalah dihasilkan, dikonfirmasikan atau ditranformaikan di dalam bagian/corak (course) interaksi dan transaksi antara pengambilan keputusan, dan strategi individu. Etnisitas dalam Barth  menjadi bahan politik, pengambil keputusan, dan orientasi tujuan (jenkin, 12).

  • Etnik/suku bangsa adalah tentang perbedaan kultural – meskipun , menulangi pertanyaan tema utama dari identitas sosial, identitas adalah selalu merupakan dialektika antara kesamaan & perbedaan
  • Etnisitas  adalah dipusatkan pada perhatian dengan kebudayaan – makna yang dibagi bersama (shared meaning)- tetapi ini juga berakar di dalam, dan pada suatu kepentingan yang luas ttg hasil dari interaksi sosial
  • Etnisitas tidak lagi mapan atau tak berubah daripada kebudayaan dari dimana ini merupakan sebuah komponen atau situasi dimana ini diproduksi dan direproduksi
  • Etnisitas sebagai sebuah identitas sosial adalah kolektif/kumpulan dan individual, dieksternalisasikan di dalam interaksi sosial dan diinternalisasikan dalam identifikasi diri personal (Jenkins, 13-14). Read More…

resensi..

Adi Prasetijo

Artikel ini sebenarnya ingin mencoba untuk menjelaskan dan menggambarkan bahwa upacara yang sifatnya suci dan tidak suci adalah menciptakan suatu kesatuan yang tunggal dan tidak dapat dipisahkan. Taboo (pantangan) secara umum dapat diartikan sebagai suatu  interpretasi akan ketidakbersihan (kotor) danpenghindaran terhadap pelanggaran yang merusak keharmonisan hubungannya dengan alam, apabila terjadi pelanggaran maka sangsinya ada di dunia, misalnya penyakit, gempa bumi Read More…

Adi Prasetijo;

resensi buku lawas Andrew Vayda, tp masih perlu utk dibaca

Vayda mengatakan  bahwa sebenarnya munculnya pandangan bahwa pola dan “order” dalam studi antropologi terlalu dilebih-lebihkan dan sebaiknya variasi dan variabilitaslah yang seharusnya diteliti oleh para peneliti. Kemudian ia  menggunakan terminologi anti-esesensialist untuk menggambarkan  peneliti (Pelto & Pelto, Borosfsky, Fredrick Barth &Vayda sendiri) yang berusaha menghindarkan atau menghilangkan studinya dari orientasi pola dan menggantikannya dengan orientasi variasi dan proses bagaimana pengetahuan itu didapatkan, dipertahankan, dan ditransmisikan, yang kesemuanya itu bersifat kontekstual. Ia kemudian menggunakan terminologi essensialist untuk menggambarkan para peneliti(ernest & Pearl Beaglehole) yang melihat unsur pola sebagai orientasi penelitiannya, yang tentu saja berdasar pada keseragaman kultural dan bersifat struktural. Juga pada reaksi mereka yang lebih cenderung kepada data sebagai suatu yang sudah dijadikan pedoman dan cenderung stabil serta dianggap lebih, daripada data lain yang bersifat oposisi. Read More…

Posted by: tijok | February 12, 2009

Perubahan Sosial

Parsudi Suparlan

Disampaitkan di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Sub-Proyek Pembinaan MKDU- Konsorsium Antar Bidang, Penataran Pengajar ISD, Wisma PEMDA ; Bukit Tinggi, 13-19 April 1981

PENDAHULUAN

Masyarakat dan kebudayaan manusia di manapun selalu berada dalam keadaan berubah. Pada masyarakat-masyarakat dengan kebudayaan primitif, yang hidup terisolasi jauh dari berbagai jalur hubungan dengan masyarakat-masyarakat lain di luar dunianya sendiri, perubahan yang terjadi dalam keadaan lambat. Perubahan yang terjadi dalam masyarakat berkebudayaan primitif tersebut, biasanya telah terjadi karena adanya sebab-sebab yang berasal dari dalam masyarakat dan kebudayaan itu sendiri, yaitu karena perubahan dalam hal jumlah dan komposisi penduduknya dan karena perubahan lingkungan alam dan fisik tempat mereka hidup. Read More…

Posted by: tijok | January 20, 2009

Menuju Masyarakat Indonesia yang Multikultural

Parsudi Suparlan

*Simposium Jurnal Antropologi ke 3, Bali 16-21 Juli 2002

Pendahuluan

Dalam tulisan saya (Suparlan 2001a, 2001b) telah saya bahas dan tunjukkan bahwa cita-cita reformasi untuk membangun Indonesia Baru harus dilakukan dengan cara membangun dari hasil perombakan terhadap keseluruhan tatanan kehidupan yang dibangun oleh Orde Baru.  Inti dari cita-cita tersebut adalah sebuah masyarakat sipil demokratis, adanya dan ditegakkannya hukum untuk supremasi keadilan, pemerintahan yang bersih dari KKN, terwujudnya keteraturan sosial dan rasa aman dalam masyarakat yang menjamin kelancaran produktivitas warga masyarakat, dan kehidupan ekonomi yang mensejahterakan rakyat Indonesia.  Bangunan Indonesia Baru dari hasil reformasi atau perombakan tatanan kehidupan Orde Baru adalah sebuah “masyarakat multikultural Indonesia” dari puing-puing tatanan kehidupan Orde Baru yang bercorak “masyarakat majemuk” (plural society).  Sehingga, corak masyarakat Indonesia yang bhinneka tunggal ika bukan lagi keanekaragaman sukubangsaa dan kebudayaannya tetapi keanekaragaman kebudayaan yang ada dalam masyarakat Indonesia. Read More…

Adi Prasetijo

Pengantar

Paradigma adalah jendela sudut pandang yang mendasari kita dalam melihat suatu gejala tertentu dimana dalam paradigma itu bersandar pada suatu konsep/teori tertentu yang mendasari keseluruhan sudur pandang kita. Demikian pula ketika Depsos/pemerintah dalam melihat gejala “masayarakat terasing” ini. Kebijakan yang mereka hasilkan terhadap “masyarakat terasing”  merupakan cerminan dari sudut pandang  pemerintah     dalam menghadapi permasalahan ini. Tentunya sudut pandang/paradigma yang mereka gunakan juga tidak lepas dari paradigma ilmu-ilmu sosial yang  digunakan dalam pembangunan Indonesia. Read More…

Posted by: tijok | December 19, 2008

Orang Kubu* Dalam Kaca Mata Edwin Loeb

Resensi Sumatra, Its History And People, By Edwin M.Loeb (1935 ?)

Oleh Adi Prasetijo

Buku ini sebenarnya menceritakan sejarah pulau Sumatra dan masyarakat yang hidup di pulau itu. Salah satu yang menjadi kajian Loeb adalah Orang Kubu. Loeb membagi tulisannya tentang orang Kubu dalam 4 bagian, yaitu; pendahuluan yang berisi sejarah Orang Kubu, lokasi mereka, dan pengistilahan Kubu sendiri; kehidupan ekonomi yang mencoba menjelaskan mata pencaharian mereka; organisasi sosial yang menjelaskan dengan singkat tentang sistem kekerabatan, perkawinan, dan daur hidup mereka (kelahiran – kematian); dan yang terakhir tentang agama mereka.
Read More…

Posted by: tijok | December 10, 2008

What’s Social Risk Assessment ?

Adi Prasetijo, compile from some sources

Social risk assessment is part of risk management in way to understand the risk that comes out from social environmental. Social risks arise from the dissatisfaction and grievances of external community and stakeholders that arise the conflict. The different perception and culture to understand each party in some points arise the conflict between them. Failure to manage these issues can have enormous economic costs, significantly damage the reputations of organisations involved and even put entire investments at risk.

Read More…

Posted by: tijok | November 30, 2008

“Taxi To The Dark Side” – Trailer

more about ""Taxi To The Dark Side" – Trailer", posted with vodpod

Posted by: tijok | November 30, 2008

Dibalik Battle for Haditha dan Taxi to The Dark Side

Semingguan ini,  gw nonton 2film tentang perang. “Battle for haditha” dan “Taxi Driver to the dark Side”.  Lengkap sudah dalam seminggu dua film tentang perang. Dua film pertama menurutku jadi pembenaran yang kesekian kalinya tentang kegagalan amerika di Iraq & Afghanistan.  Gw berkesan dengan 2 film perang ini. Bagi gw kedua film entah mengapa ada kaitan yang erat dan jalinan ceritanya. Kekerasan yang terencana dan hebatnya itu dilegitimasi oleh sebuah negara yang katanya rujukan untuk demokrasi.

Read More…

« Newer Posts - Older Posts »

Categories