Nggak tahu, kenapa saya suka dengan kajian yang bersifat antropologi atau cultural studies. Memang latar belakang ini tidak gue dapetin di S1 gue. S1 gue arkeologi (UGM), dan S2 gue antropologi (UI). Pokoknya klop dengan ilmu-ilmu yang kata orang kagak ada duitnya. Sedikit bergaul dengan konflik dan peacebuilding. Pernah training tentang CBT (Community Based Tourism) di Nepal, Conflict Transformation di Philipine, beberapa workshop dan selebihnya belajar sendiri – malah lebih banyak sendiri kayaknya. I prefer to focusing on conflict analysis and indigenous people studies.
Pernah bekerja di NGO lokal, internasional, lembaga UN, dan sekarang terdampar jadi social researcher….nggak tahu jadi apa lagi gue ntar. Untuk sementara teliti meneliti dulu….
adi prasetijo/tijok
prasetijo@gmail.com







Halo Tijok,
Udah lama ndak kontak. Dimana kamu sekarang? Saya masih tetap ulang-alik Jakarta-Jogja demi sesuap nasi. Blogmu ini semakin bagus, belajar banyak yah utk bisa ngeblog dg baik. Oh ya, blogmu udah saya links di blogku.
Selamat menulis dan selamat ngeblog.
By: djuni on August 8, 2008
at 1:34 am
hal thek..
hehhee..sama thek. Aku bolak balik jakarta yogya juga demi sesuap mercy baby benz…hahaha..thanks pak komentarnya. Aku khan belajar dr ahlinya..
By: tijok on August 9, 2008
at 7:41 am
ampun, Pak…
ndak sanggup berkomentar…
berat yak tulisannya…
bisa bantuin untuk orang seperti aku yang awam dengan anthropologi dan cultural studies? Mungkin, tulisan yang agak lebih ringan bisa menarik. Tapi, tergantung tujuan sih…
Aku tetap senang belajar bersamamu. thx ya.
By: setiowati on November 19, 2008
at 7:34 am
Hehehehe…tik lo bisa aja..emang lebih pinteran lo drpd gw
By: tijok on November 20, 2008
at 11:53 am
Maaf sebelumnya…
Saya tidak tau harus panggil Bapak, Mas. Om atau apa.
Saya sangat tertarik dengan blog ini, karena mengangkat tentang kajian antropologi.
Saya mahasiswa jurusan Sosiologi& Antropologi semester akhir, saya sedang menyusun skripsi tentang “Adaptasi Orang Mingang Perantauan terhadap Budaya Jawa”
Saya mohon petunjuk dari Anda, untuk dapat memberikan sedikit konsep ataupun literature yang bisa dijadikan acuan berkaitan dengan tema skripsi saya ini. Terimakasih sebelumnya
By: Nur Indah on April 13, 2009
at 3:24 am
Terima kasih mbak Nur Indah atas tanggapannya. Adaptasi sebenarnya suatu konsep budaya yg diambil atau dipinjam dr konsep lingkungan tentang adaptasi mahkluk hidup thdp lingkungan alamnya. Konsep2 itu kemudian dipinjam & diterjemahkan dlm konteks teori budaya. Ada beberapa literatur lama tentang ini – John Bennet, Hardestry, dll. Kalau ada yg bisa saya bantu silahkan kontak email japri saya diatas. Thanks
By: tijok on April 14, 2009
at 1:47 am
Saya sudah mengirim pesan di E-mail Anda, mohon petunjuk dari Anda. Terimakasih sebelumnya…
By: Nur Indah on May 6, 2009
at 4:16 am
Saya sangat berterima kasih atas segala bantuan Anda..
Terimakasih…
By: Nur Indah on May 11, 2009
at 1:47 pm
Saya ingin tanya lagi Pak…
kemarin saya ditanya seseorang “apa bedanya orang Minang dengan Suku bangsa Minangkabau?”
Saya menjawab kalau suku bangsa itu berkaitan dengan sekelompok orang yang mempunyai ciri budaya yang sama dan biasanya disatukan dengan bahasa yang juga sama. tetapi kalau orang minang itu adalah manusianya. Jadi orang minang itu masuk dalam suku bangsa minang.
Apakah seperti itu Pak?
Atau bagaimana jawabn yang seharusnya saya lontarkan untuk menjawab pertanyaan tersebut?
By: Nur Indah on July 2, 2009
at 7:52 am
Pak, lha kalau jenis masakan itu juga bisa masuk dalam kekayaan budaya ya kan Pak? misal masakan minang dengan masakan jawa itu berbeda, karena selera orang Minang dengan selera makan orang Jawa juga berbeda, yang katanya orang jawa cenderung menyukai masakan yang manis sedangkan orang Minang lebih suka masakan yang pedas. Semua itu sebenarnya dasarnya apa sih Pak?
Lalu pantasnya pemakain istilah katanya “makanan” atau “masakan” ya Pak?
Saya masih bingung bedanya antara makanan dengan masakan itu bagaiamana.
Bapak tau literatur atau situs internet yang membahas makanan/masakan secara antropologis tidak Pak? Kalau makanan atau masakan memang termasuk kekayaan budaya?
By: Nur Indah on July 8, 2009
at 7:27 am
Pak, kalau bedanya etnis dengan suku bangsa bagaimana? Ada orang menyebut Jawa dengan etnis Jawa lalu ada juga menyebut Suku Bangsa Jawa.
Lalu dengan etnis Tionghoa???
By: Nur Indah on July 11, 2009
at 6:23 am
#
Pak, lha kalau jenis masakan itu juga bisa masuk dalam kekayaan budaya ya kan Pak? misal masakan minang dengan masakan jawa itu berbeda, karena selera orang Minang dengan selera makan orang Jawa juga berbeda, yang katanya orang jawa cenderung menyukai masakan yang manis sedangkan orang Minang lebih suka masakan yang pedas. Semua itu sebenarnya dasarnya apa sih Pak?
Lalu pantasnya pemakain istilah katanya “makanan” atau “masakan” ya Pak?
Saya masih bingung bedanya antara makanan dengan masakan itu bagaiamana.
Bapak tau literatur atau situs internet yang membahas makanan/masakan secara antropologis tidak Pak? Kalau makanan atau masakan memang termasuk kekayaan budaya?
By: Nur Indah on July 13, 2009
at 12:49 pm
kajian yang dalam bis auntuk referensi. thanks for the posting.
salam
By: Sam on September 4, 2009
at 4:05 am
terima kasih atas komentarnya. semoga memang bisa membantu
By: tijok on September 4, 2009
at 4:31 am
nice blog and nice info. thanks for sharing. salam kenal aja.
By: chayur on October 14, 2009
at 7:39 am