Posted by: tijok | May 11, 2009

PENDEKATAN BUDAYA TERHADAP AGAMA

Oleh Parsudi Suparlan (alm.)

Disampaikan dalam Pelatihan Wawasan Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan Dosen Pendidikan Agama Islam Di Perguruan Tinggi Ditjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama, R.I. Tugu, Bogor, 26 November 1994

Pendahuluan

Dalam salah satu tulisan saya (1988: v), saya kemukakan bahwa: “Agama, secara mendasar dan umum, dapat didefinisikan sebagai seperangkat aturan dan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan dunia gaib, khususnya dengan Tuhannya, mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya, dan manusia dengan lingkungannya”. Dalam definisi tersebut, agama dilihat sebagai sebuah doktrin atau teks suci sedangkan hubungan agama dengan manusia yang meyakininya dan khususnya kegiatan-kegiatan manusia penganut agama tersebut tidak tercakup dalam definisi tersebut. Para ahli ilmu-ilmu sosial, khususnya Antropologi dan Sosiologi, yang perhatian utamanya adalah kebudayaan dan masyarakat manusia, telah mencoba untuk melihat agama dari perspektif masing-masing bidang ilmu dan pendekatan-pendekatan yang mereka gunakan, dalam upaya mereka untuk dapat memahami hakekat agama dalam kehidupan manusia dan masyarakatnya. Read More…

Posted by: tijok | April 27, 2009

Seminggu ini

Memang hidup itu “up and down”. Naik turun. Kadang cepet kadang lambat naik turunnya. Tapi intinya ya tetap sama. Ya naik turun itu. Nggak ada hidup yang lurus atau stabil terus. Ya seperti yang aku alami seminggu ini. Sebelumnya dapat pemberitahuan dari kantor kalo gw any longer works at my office for next month & year ..hahaha..ya sdh gimana lagi. Susah senang harus ditanggung sendiri khan. Yang jelas alasannya bukan karena kualitas pekerjaan gw atau attitude gw dikantor tp karena ya krisis global. Ya nggak apa-apa.  Live must be goes on bro. Read More…

Posted by: tijok | April 21, 2009

Memberi

Memberi. Gw kemarin sempat tercenung memikirkan makna kata memberi dalam hidup gw. Nggak tahu gw sempat terpikirkan kata-kata nasehat adik gw. Dia berkata begini, ” Memberi itu nggak akan membikin kita jadi semakin miskin tapi akan semakin membuat kita semakin kaya”. ” Dengan memberi nggak bakalan membuat kita tambah miskin”. Waktu itu gw tau apa maksudnya. Memberi ya memberi berarti mengurangi sesuatu dari diri kita. Misalnya, kita punya duit sepuluh ribu terus kita kasih ke pengemis jalanan dua ribu berarti uang kita akan berkurang jadi delapan ribu. Nambah kayanya dari mana coba ?. Gw pikir memang ada-ada aja pikiran adik gw itu. Pokoknya mana bisalah memberi menjadi bertambah dikita. Hil yang mustahal !! itu katanya Asmuni almarhum.  Read More…

Posted by: tijok | April 3, 2009

Antara Superhero, Win, dan WASP

Apa sih hubungannya antara patriotisme dan kebudayaan ?

Hubungan itu baru saja saya temukan ditulisannya Samuel Huntington, “Who Are We”.  Bukunya sudah lama sih, 2004, tapi baru kebaca beberapa hari ini. Penjelasan-penjelasan yang ada dalam buku ini seperti  menyambungkan serpihan kenyataan yang kita lihat tentang Amerika dan masyarakatnya.  Read More…

Resensi:

adi prasetijo

Barth menekankan bahwa identitas etnik adalah dihasilkan, dikonfirmasikan atau ditranformaikan di dalam bagian/corak (course) interaksi dan transaksi antara pengambilan keputusan, dan strategi individu. Etnisitas dalam Barth  menjadi bahan politik, pengambil keputusan, dan orientasi tujuan (jenkin, 12).

  • Etnik/suku bangsa adalah tentang perbedaan kultural – meskipun , menulangi pertanyaan tema utama dari identitas sosial, identitas adalah selalu merupakan dialektika antara kesamaan & perbedaan
  • Etnisitas  adalah dipusatkan pada perhatian dengan kebudayaan – makna yang dibagi bersama (shared meaning)- tetapi ini juga berakar di dalam, dan pada suatu kepentingan yang luas ttg hasil dari interaksi sosial
  • Etnisitas tidak lagi mapan atau tak berubah daripada kebudayaan dari dimana ini merupakan sebuah komponen atau situasi dimana ini diproduksi dan direproduksi
  • Etnisitas sebagai sebuah identitas sosial adalah kolektif/kumpulan dan individual, dieksternalisasikan di dalam interaksi sosial dan diinternalisasikan dalam identifikasi diri personal (Jenkins, 13-14). Read More…

resensi..

Adi Prasetijo

Artikel ini sebenarnya ingin mencoba untuk menjelaskan dan menggambarkan bahwa upacara yang sifatnya suci dan tidak suci adalah menciptakan suatu kesatuan yang tunggal dan tidak dapat dipisahkan. Taboo (pantangan) secara umum dapat diartikan sebagai suatu  interpretasi akan ketidakbersihan (kotor) danpenghindaran terhadap pelanggaran yang merusak keharmonisan hubungannya dengan alam, apabila terjadi pelanggaran maka sangsinya ada di dunia, misalnya penyakit, gempa bumi Read More…

Adi Prasetijo;

resensi buku lawas Andrew Vayda, tp masih perlu utk dibaca

Vayda mengatakan  bahwa sebenarnya munculnya pandangan bahwa pola dan “order” dalam studi antropologi terlalu dilebih-lebihkan dan sebaiknya variasi dan variabilitaslah yang seharusnya diteliti oleh para peneliti. Kemudian ia  menggunakan terminologi anti-esesensialist untuk menggambarkan  peneliti (Pelto & Pelto, Borosfsky, Fredrick Barth &Vayda sendiri) yang berusaha menghindarkan atau menghilangkan studinya dari orientasi pola dan menggantikannya dengan orientasi variasi dan proses bagaimana pengetahuan itu didapatkan, dipertahankan, dan ditransmisikan, yang kesemuanya itu bersifat kontekstual. Ia kemudian menggunakan terminologi essensialist untuk menggambarkan para peneliti(ernest & Pearl Beaglehole) yang melihat unsur pola sebagai orientasi penelitiannya, yang tentu saja berdasar pada keseragaman kultural dan bersifat struktural. Juga pada reaksi mereka yang lebih cenderung kepada data sebagai suatu yang sudah dijadikan pedoman dan cenderung stabil serta dianggap lebih, daripada data lain yang bersifat oposisi. Read More…

Posted by: tijok | February 12, 2009

Perubahan Sosial

Parsudi Suparlan

Disampaitkan di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Sub-Proyek Pembinaan MKDU- Konsorsium Antar Bidang, Penataran Pengajar ISD, Wisma PEMDA ; Bukit Tinggi, 13-19 April 1981

PENDAHULUAN

Masyarakat dan kebudayaan manusia di manapun selalu berada dalam keadaan berubah. Pada masyarakat-masyarakat dengan kebudayaan primitif, yang hidup terisolasi jauh dari berbagai jalur hubungan dengan masyarakat-masyarakat lain di luar dunianya sendiri, perubahan yang terjadi dalam keadaan lambat. Perubahan yang terjadi dalam masyarakat berkebudayaan primitif tersebut, biasanya telah terjadi karena adanya sebab-sebab yang berasal dari dalam masyarakat dan kebudayaan itu sendiri, yaitu karena perubahan dalam hal jumlah dan komposisi penduduknya dan karena perubahan lingkungan alam dan fisik tempat mereka hidup. Read More…

Posted by: tijok | January 20, 2009

Menuju Masyarakat Indonesia yang Multikultural

Parsudi Suparlan

*Simposium Jurnal Antropologi ke 3, Bali 16-21 Juli 2002

Pendahuluan

Dalam tulisan saya (Suparlan 2001a, 2001b) telah saya bahas dan tunjukkan bahwa cita-cita reformasi untuk membangun Indonesia Baru harus dilakukan dengan cara membangun dari hasil perombakan terhadap keseluruhan tatanan kehidupan yang dibangun oleh Orde Baru.  Inti dari cita-cita tersebut adalah sebuah masyarakat sipil demokratis, adanya dan ditegakkannya hukum untuk supremasi keadilan, pemerintahan yang bersih dari KKN, terwujudnya keteraturan sosial dan rasa aman dalam masyarakat yang menjamin kelancaran produktivitas warga masyarakat, dan kehidupan ekonomi yang mensejahterakan rakyat Indonesia.  Bangunan Indonesia Baru dari hasil reformasi atau perombakan tatanan kehidupan Orde Baru adalah sebuah “masyarakat multikultural Indonesia” dari puing-puing tatanan kehidupan Orde Baru yang bercorak “masyarakat majemuk” (plural society).  Sehingga, corak masyarakat Indonesia yang bhinneka tunggal ika bukan lagi keanekaragaman sukubangsaa dan kebudayaannya tetapi keanekaragaman kebudayaan yang ada dalam masyarakat Indonesia. Read More…

Adi Prasetijo

Pengantar

Paradigma adalah jendela sudut pandang yang mendasari kita dalam melihat suatu gejala tertentu dimana dalam paradigma itu bersandar pada suatu konsep/teori tertentu yang mendasari keseluruhan sudur pandang kita. Demikian pula ketika Depsos/pemerintah dalam melihat gejala “masayarakat terasing” ini. Kebijakan yang mereka hasilkan terhadap “masyarakat terasing”  merupakan cerminan dari sudut pandang  pemerintah     dalam menghadapi permasalahan ini. Tentunya sudut pandang/paradigma yang mereka gunakan juga tidak lepas dari paradigma ilmu-ilmu sosial yang  digunakan dalam pembangunan Indonesia. Read More…

Older Posts »

Categories