Toleransi tidak didapatkan jatuh dari langit tapi dibangun

Ini datang dari pengalaman saya beberapa hari ini. Refleksi ini datang tanpa sengaja, membuat saya mengingat kembali masa-masa bersekolahdasar dulu. Ceritanya melalui FB (thanks to FB), saya terkoneksikan dengan seorang teman lama ketika masa SD dahulu. SD..Ya SD. Coba bayangkan, sudah beberapa tahun lamanya terpisah. Perbincangan dengan teman itu membuat saya mencoba banyak-banyak mengingat apa saja yang terjadi ketika itu, juga apa yang saya rasakan ketika itu. Terus terang, sejak saya lulus SD dan pindah ke smp, hubungan dengan sekolah dasar tempat saya belajar seakan telah putus. SD tempat saya adalah sekolah dasar katolik. Karena alasan mutu, begitu kata orang tua saya, saya dan adik disekolahkan ke TK dan SD katolik, meskipun kami sendiri beragama Islam. SD tempat saya sekolah adalah sekolah katolik yang tumbuh dari pengalaman tradisi kedisiplinan katolik yang tinggi. Betapa tidak, SD tempat saya sekolah adalah sekolah praktek untuk kakak-kakak sekolah guru yang ada dalam kompleks itu juga. Sekolah saya memang berada dalam satu kompleks dengan SPG (Sekolah Pendidikan Guru), tempat tinggal para pastor & Romo, dan satu sekolah SMP. Bisa dibayangkan ramenya ketika semua ketemu dalam satu ruang. Untungnya kita memang tidak pernah ketemu dalam satu ruang. Dengan menjadi sekolah praktek, guru-gurunya sangat disiplin dalam mengajar. Kita diajarkan untuk bertanggungjawab atas diri kita sendiri. Jika kita tidak membawa pinsil, seharian penuh kita hari itu nggak bisa nulis. Meminjam itu haram !!!. Pernah saya mengalaminya dan habis sudah daya ingat saya untuk mengingat-mengingat pelajaran hari itu. (more…)

Add comment January 30, 2010

Konsep Rekonsiliasi

Adi Prasetijo

Pendahuluan
Perbedaan adalah suatu konsekuansi logis yang muncul dalam setiap masyarakat yang bertipe masyarakat majemuk, seperti masyarakat Indonesia. Perbedaan bisa muncul dimana saja. Seperti misalnya perbedaan akan intertepretasi atas suatu gejala sosial yang sama oleh kelompok atau golongan yang berbeda adalah hal yang lumrah dalam masyarakat majemuk. Perbedaan interpretasi tersebut bisa terjadi karena setiap kelompok dan golongan masyarakat mempunyai nilai-nilai dalam kebudayaannya sendiri sebagai acuannya dalam menginterpretasikan atas sesuatu. Ia mempunyai kebenarannya sendiri dalam menginterpretasikan suatu gejala atau simbol yang dilihatnya. Sudah barang tentu perbedaan dalam masyarakat majemuk seperti ini akan membawa efek pada hubungan relasional manusia, tidak saja ditingkat antar individu tetapi juga ditingkat hubungan antar kelompok dan golongan yang berbeda. (more…)

Add comment January 15, 2010

Memerangi Prasangka

Adi Prasetijo
prasetijo@gmail.com

Pada tahun 2005 yang lalu di Sydney muncul kerusuhan antar ras yang dipicu oleh kabar yang tak jelas, dimana “katanya” seorang pemuda keturunan Arab telah menganiaya seorang petugas penjaga hingga babak belur. Tak pelak lagi berita “katanya” itu tiba-tiba telah menyebar luas melalui omong per omong dan SMS. Berita “katanya” itu kemudian menyulut rasa sentimen anti Arab di Australia. Dan tak lama kemudian menyulut dan merembetan tindakan-tindakan pemukulan, pengrusakan barang-barang milik publik, dan penyerang petugas keamanan terjadi. Bahkan seorang pemuda kulit putih tanpa sebab yang jelas memburu dan memukuli mereka yang berpenampilan Arab tanpa sebab musabab yang jelas (Kompas, 21/12/05). Ditenggarai prasangka terhadap imigran yang berlebihan dan membabi-buta adalah penyebab pokok kerusuhan rasial itu. (Kompas,12/12/05). Kebencian dan perasaan marah yang demikian luar biasanya dirasakan oleh para perusuh sehingga mampu menggerakan keinginan untuk merusak, melukai, bahkan membunuh sekalipun. (more…)

2 comments November 1, 2009

Good Governance dan Pembangunan Berkelanjutan

Adi Prasetijo
dr berbagai sumber

dalam: Meretas Pemikiran Naya: Apreasiasi 37 Tahun Masa Pengabdian Prof. Surna Tjahja Djajadiningrat, Ph.D, ICSD & SBM ITB, Bandung 2009

Dalam suatu percakapan informal seorang teman bertanya; Mengapa, lingkungan hidup Indonesia semakin memprihatinkan?. Apakah dapat diperbaiki dan bagaimana memperbaikinya?.

Pertanyaan tersebut tidak hanya diajukan oleh kawan tersebut tetapi oleh banyak kawan lainnya yang ikut prihatin dengan kondisi sumber daya alam dan lingkungan hidup yang kita miliki bersama. Jawaban politisnya mudah yaitu; karena kita miskin dan semakin miskin maka lingkungan hidup yang sudah rusak semakin rusak. Jawaban simplistik yang menyalahkan kemiskinan sebagai penyebab semakin parahnya kerusakan lingkungan hidup bukanlah jawaban yang dapat dipertanggungjawabkan. (more…)

Add comment October 20, 2009

Konflik Antar Sukubangsa Melayu dan Dayak Dengan Madura di Kab. Sambas, Kalbar

Parsudi Suparlan
dimuat dalam buku beliau di Hubungan Antar Sukubangsa, Terbitan YKK, UI, 2003

Pendahuluan
Tulisan ini adalah mengenai konflik antar sukubangsa yang telah terjadi di Kabupaten Sambas antara sukubangsa atau orang Melayu dan orang Dayak disatu pihak dengan orang Madura di pihak lain. Konflik antara orang melayu dengan orang madura telah terjadi pada tahun 1999, yang merupakan sebuah konflik yang pertama terjadi dan yang terakhir. Karena setelah konflik tersebut berakhir orang-orang Madura terusir dari wilayah Kabupaten Sambas. Sedangkan konflik antara orang Dayak dan Madura telah berlangsung selama 11 kali sejak tahun 1962 yang berakhir pada tahun 1999. Konflik pada tahun 1999 terjadi pada saat sedang berlangsungnya konflik antara orang melayu dengan orang Madura. (more…)

Add comment September 29, 2009

Pinjam meminjam budaya itu biasa bung..

Klaim tari pendet, klaim batik, wayang, dan lain-lain, jadi membuat saya berpikir tentang batasan budaya suatu bangsa.  Apa bener proses klaim mengklaim seperti ini juga baru terjadi sekarang-sekarang saja ?, Jadi berpikir kemudian apa sih yg namanya identitas budaya, kemudian apa batas identitasnya dan dimana sih  batasnya.. (more…)

Add comment September 12, 2009

Transformasi Konflik Bukan Resolusi Konflik

Adi Prasetijo

Konsep ini dipopoulerkan oleh John Paul Lederach. Lederach  menggunakan terminologi  transformasi konflik pada tahun 1980’an, setelah mengalami pengalaman intensif  selama berada di Amerika tengah. Konsep ini muncul dari kekhawatiran dengan beberapa konsep sebelumnya yang menurutnya belum bisa menjawab permasalahan penyelesaian konflik secara paradigmatik. Ia  menemukan bahwa misalnya  konsep resolusi konflik membawa kecemasan tersendiri dengan bahaya kooptasi yang ditimbulkannya yaitu ke arah yang akan membawa kekakuan makna konflik dimana orang-orang akan   menjadikannya sebagai isu kepentingan dan legitimasi. Dan ini menurutnya tidak  jelas benar karena resolusi  konflik tidak sejalan dengan advocacy.  Resolusi konflik baginya tidak dapat mengantisipasi perubahan yang akan terjadi sebagai akibat dari resolusi konflik tersebut. (more…)

Add comment August 25, 2009

Keragaman Budaya Indonesia

Oleh : Adi Prasetijo

Pendahuluan

Keragaman budaya atau “cultural diversity” adalah keniscayaan yang ada di bumi Indonesia. Keragaman budaya di Indonesia adalah sesuatu yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Dalam konteks pemahaman masyarakat majemuk, selain kebudayaan kelompok sukubangsa, masyarakat Indonesia juga terdiri dari berbagai kebudayaan daerah bersifat kewilayahan yang merupakan pertemuan dari berbagai kebudayaan kelompok sukubangsa yang ada didaerah tersebut. Dengan jumlah penduduk 200 juta orang dimana mereka tinggal tersebar dipulau- pulau di Indonesia. Mereka juga mendiami dalam wilayah dengan kondisi geografis yang bervariasi. Mulai dari pegunungan, tepian hutan, pesisir, dataran rendah, pedesaan, hingga perkotaan. Hal ini juga berkaitan dengan tingkat peradaban kelompok-kelompok sukubangsa dan masyarakat di Indonesia yang berbeda. Pertemuan-pertemuan dengan kebudayaan luar juga mempengaruhi proses asimilasi kebudayaan yang ada di Indonesia sehingga menambah ragamnya jenis kebudayaan yang ada di Indonesia. Kemudian juga berkembang dan meluasnya agama-agama besar di Indonesia turut mendukung perkembangan kebudayaan Indonesia sehingga memcerminkan kebudayaan agama tertentu. Bisa dikatakan bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat keaneragaman budaya atau tingkat heterogenitasnya yang tinggi. Tidak saja keanekaragaman budaya kelompok sukubangsa namun juga keanekaragaman budaya dalam konteks peradaban, tradsional hingga ke modern, dan kewilayahan. (more…)

13 comments July 24, 2009

PENDEKATAN BUDAYA TERHADAP AGAMA

Oleh Parsudi Suparlan (alm.)

Disampaikan dalam Pelatihan Wawasan Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan Dosen Pendidikan Agama Islam Di Perguruan Tinggi Ditjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama, R.I. Tugu, Bogor, 26 November 1994

Pendahuluan

Dalam salah satu tulisan saya (1988: v), saya kemukakan bahwa: “Agama, secara mendasar dan umum, dapat didefinisikan sebagai seperangkat aturan dan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan dunia gaib, khususnya dengan Tuhannya, mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya, dan manusia dengan lingkungannya”. Dalam definisi tersebut, agama dilihat sebagai sebuah doktrin atau teks suci sedangkan hubungan agama dengan manusia yang meyakininya dan khususnya kegiatan-kegiatan manusia penganut agama tersebut tidak tercakup dalam definisi tersebut. Para ahli ilmu-ilmu sosial, khususnya Antropologi dan Sosiologi, yang perhatian utamanya adalah kebudayaan dan masyarakat manusia, telah mencoba untuk melihat agama dari perspektif masing-masing bidang ilmu dan pendekatan-pendekatan yang mereka gunakan, dalam upaya mereka untuk dapat memahami hakekat agama dalam kehidupan manusia dan masyarakatnya. (more…)

8 comments May 11, 2009

Seminggu ini

Memang hidup itu “up and down”. Naik turun. Kadang cepet kadang lambat naik turunnya. Tapi intinya ya tetap sama. Ya naik turun itu. Nggak ada hidup yang lurus atau stabil terus. Ya seperti yang aku alami seminggu ini. Sebelumnya dapat pemberitahuan dari kantor kalo gw any longer works at my office for next month & year ..hahaha..ya sdh gimana lagi. Susah senang harus ditanggung sendiri khan. Yang jelas alasannya bukan karena kualitas pekerjaan gw atau attitude gw dikantor tp karena ya krisis global. Ya nggak apa-apa.  Live must be goes on bro. (more…)

3 comments April 27, 2009

Previous Posts


 

February 2010
M T W T F S S
« Jan    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Top Posts

Recent Posts

Recent Comments

Ayyou zilvia on Keragaman Budaya Indonesi…
efariani fakri on PENDEKATAN BUDAYA TERHADAP…
yuni on Keragaman Budaya Indonesi…
pernikahan adat on Definisi Kebudayaan Menurut Pa…
pernikahan adat on Keragaman Budaya Indonesi…

Categories

Archives

Pages

Artikel

antropologi humaniora indonesia opini sosial

Blogroll

blog indonesia

blog catalog

Society Blogs - Blog Catalog Blog Directory

blog pop

blogged

350 brighterplanet

Brighter Planet's 350 Challenge

Blog Stats

globetrackr

Bookmark and Share

geovisite