Orang Rimba & etnografi
Posted in antropologi
Diskriminasi ?
Hotel K alias penjara
Ketika berkunjung ke toko buku border, queens bay mall, penang, nampak buku yang membahas tentang Indonesia. Judulnya menarik “Hotel K: The Shocking Inside Story of Bali’s Most Notorious Jail”. Tadinya saya pikir buku tentang tourism atau apa ternyata tentang Hotel prodeo alias penjara. Makna “K” ternyata adalah Krobokan. Nama penjara yang ada di Denpasar, Bali. Pengarangnya adalah seorang reporter Australia, Kathryn Bonella. Sepintas saya baca, buku ini ditulisannya ketika meliput dan menulis buku tentang Schapelle Corby, napi cantik kasus narkoba. Ia melihat bahwa banyak orang asing yang menjadi tahanan di Bali.
Baginya Hotel Kerobokan memang unik. Betapa tidak. Mulai teroris kelas kakap sampai napi narkoba ada disini. Mulai yang tobat sampai malah kecanduan juga ada disini. Mulai juga ingin lari sampai malah kerasan juga ada disini. Ini memang hotel kehidupan.
Sesuai judulnya “Hotel K” maka meskipun penjara, fasilitas dan modelnya adalah pelayanan model hotel. Bisa pesan kamar, upgrade kamar, pesan narkoba, sesuatu yang sesungguhnya tidak aneh buat kita orang Indonesia. Jangankan Krobokan yang ada di Bali, jauh dari pusat kekuasaan, Penjara Mabes saja dikadalin oleh gayus. Mungkin fenomena aneh kali ya bagi orang aussie atau orang luar Indonesia.
Tampaknya buku ini bakalan membuat kebakaran jenggot lembaga kehakiman negeri ini. Kita tunggu saja
Posted in tulisan
Trilogi Samurai Yoji Yamada
Sesungguhnya film trilogy Samurai ini adalah film lawas yang dibesut oleh sutradara Yoji Yamada. Ada tiga film adalah, The Twilight Samurai (2002), The Hidden Blade (2004), dan Love and Honor (2006). The Twilight Samurai mendapatkan beberapa penghargaan, baik di dalam negeri Jepang maupun diluar negeri. Beberapa yang didapat untuk Twilight Samurai (2002), seperti Academy Award for Best Foreign Language Film di Academy Awards, namun kalah di French Canadian (Québec) film Les Invasions Barbares. Tapi ia menang untuk 12 penghargaan Academy Awards-nya Jepang untuk Best Picture, Best Director, Best Actor, Best Actress, dan Best Screenplay. Kemudian untuk The Hidden Blade (2004) untuk “Best Art Direction” dan Best Actress, serta Best Supporting Actress. Read More…
Posted in tulisan | Tags: Resensi Film
Kesukubangsaan dan Primordialitas:
Program Ayam di desa Mwapi, Timika, Irian Jaya
Oleh : Parsudi Suparlan
Pernah dimuat di Jurnal Antropologi no 54 th XXI Des 1997-April 1998
Kesukubangsaan sebagai sebuah konsep ilmiah telah bergeser pengertiaannya dari mengenai isi kebudayaan menjadi mengenai jatidiri atau identitas yang muncul dalam interaksi sosial, dan yang karena itu kajian mengenai kesukubangsaan menjadi terfokus pada batas-batas sukubangsa dimana atribut-atribut kesukubangsaan yang mencakup simbol-simbol kebudayaan sebagaimana didefinisikan oleh para pelakunya menentukan corak kesukubangsaan yang bersangkutan. Read More…
Posted in antropologi | Tags: Parsudi Suparlan
prasetijok’s photostream
prasetijok’s photostream on Flickr.
Posted in tulisan
Museum Kerinci di Malaysia, apa yang salah ?
Berita dikompas tanggal 12 April 2011, tentang pembangunan musem kerinci di Malaysia memang cukup mengundang pertanyaan dan pro-kontra. Dengan judul artikel, Duh! Museum Krinci Dibangun di Malaysia, Kompas mewartakan bahwa ini adalah museum yang dibangun atas permintaan warga negara Malaysia yang berasal Kerinci. Mereka ingin mengenang tentang kebudayaan asalnya. Pro-kontra tetap muncul. Budayawan Jambi banyak menyesalkan hal itu. Saya yang pernah bermukim di Jambipun, dan sekarang saya tinggal di Malaysia, rasanyapun menjadi merasa aneh. Kenapa kita mesti belajar budaya kerinci ke Malaysia ?. Buat saya ini tamparan keras buat orang Jambi. Ibaratnya begini, jangankan museum kerinci – museum negeri Jambi saja, saya kira pasti tak banyak pengunjungnya dari orang lokal Jambi sendiri. Terlepas pro-kontra dan isu Malaysia yang “jahil” suka klaim sana sini. Saya mencoba merefleksikan kepada kita sendiri. Mari kita lihat apa yang terjadi pada kita, sebelum kita lihat orang lain. Read More…
Makna Kain Bagi Orang Rimba
Oleh Adi Prasetijo
Tulisan lama mata kuliah etnografi
Pendahuluan
Penyebutan Orang Kubu pertama kali disebutkan oleh Van Dongen untuk menyebut orang-orang pimitif yang ditemuinya, ketika berkunjung ke Palembang. Ia menyebutnya sebagai Kubu Ridan, atau orang Kubu yang ada di Sungai Ridan di daerah Palembang. Kubu oleh orang Melayu diartikan sebagai pertahanan atau benteng, sehingga Orang Kubu dianggap sebagai orang yang bertahan ke dalam hutan. Sebutan Kubu kemudian berkembang menjadi istilah baku bagi mereka. Dalam perkembangan selanjutnya, istilah Kubu lebih diidentikkan pada sekelompok masyarakat primitif, bodoh, jorok, kotor, penganut animisme dan tinggal didalam hutan. Istilah Orang Kubu berlanjut hingga dasawarsa terakhir ini. Oleh Departemen Sosial istilah itu diperhalus dengan sebutan “Suku Anak Dalam”. Istilah ini juga tidak memberikan identitas yang jelas, karena mencoba menyamaratakannya dengan sebutan suku-suku lain yang hidup didalam hutan yang ada di Jambi dan Sumatra Selatan (misalnya Suku Bathin 9). Kini muncul terminologi identitas baru untuk mereka, yaitu Orang Rimba. Sebutan Orang Rimba adalah lebih mengacu pada panggilan atau sebutan kepada dirinya sendiri (memakai bahasa mereka sendiri) untuk mengidentitaskan dirinya. Yaitu orang yang hidup di dalam rimba. Istilah ini populer dikalangan LSM, untuk lebih menonjolkan sisi penghargaan kepada hak akan identitas jati diri kesukuan. Read More…
Posted in tulisan | Tags: Orang Rimba
Batasan Sosial Etnik: Bagaimana Mengartikan Kelompok Etnik Menurut Barth
Apa itu etnik ? Apa bedanya dengan ras atau kebudayaan ? Tulisan Barth tentang ethnic boundaries memang menakjubkan. Dari karya tulisan Barth, muncul banyak pertanyaan baru yang dahulu hanya berfokus pada isi kebudayaan saja. Tulisan tentang ethnic boundaries ditulis Barth tahun 1969. Ia memunculkan suatu analisa baru tentang kajian etnik ketika itu, ketika perdebatan antara peneliti primordialist dan instrumentalist berkutat pada apakah etnik itu masalah budaya “bawaan” sejak lahir atau masalah sosial politik.
Untuk paham siapa itu Fredrik Bath, silahkan klik link berikut:
Thomas Fredrik Weybye Barth
Berikut adalah summary saya tentang tulisan pengantar Barth, judulnya “Kelompok Etnik dan Batasannya: Tatanan Sosial dari Perbedaan Kebudayaan” Editor Fredrik Barth UI – Press, Jakarta, 1988. Buku ini diterjemahkan dari Ethnic Group and Boundaries, 1969.
PENDAHULUAN
Barth sebenarnya ingin membahas permasalahan yang dihadapi berbagai kelompok etnik dan daya bertahan mereka. Suatu tema besar yang banyak diabaikan oleh kalangan para antropologi sosial sebelumnya karena penalaran antropologi pada masa itu yang menyandarkan kepada alasan bahwa ragam budaya tidak bersifat melanjut (discontinuous), dan bahwa meskipun kondisi masyarakat beragam, tetap ada beberapa sifat budaya yang mirip sehingga selalu dapat dicari titik temu bagi perbedaan budaya antar kelompok. Read More…
Posted in antropologi | Tags: Resensi Buku
Etnografi: Apakah kita benar-benar bebas dari kepentingan ?
Ini perdebatan usang sebenarnya tapi tetap menarik untuk diulas ketika saya teringat tentang suatu obrolan tentang apa itu etnografi. Seperti kita pahami etnografi adalah suatu metode penelitian qualitative untuk dapat memahami suatu kebudayaan dari sudut pandang orang yang kita teliti. Etnografi sebagaimana dikatakan oleh Spradley bukanlah suatu pekerjaan yang hanya mendeskripsikan suatu kebudayaan semata, namun seperti Spradley yang mengutip kata-kata Malinowski bahwa sesungguhnya etnografi tidak hanya sekedar mendeskripsikan suatu masyarakat semata tetapi bagaimana memahami sudut pandang penduduk asli, hubungannya dengan kehidupan, untuk mendapatkan pandangannya mengenai dunianya atas suatu kehidupan. Oleh karena itu tidak hanya mempelajari masyarakat, lebih dari pada itu bagaimana kita dapat belajar dari masyarakat yang diteliti. Read More…
Posted in antropologi


































Recent Comments